RSS
Hello! Welcome to this blog. You can replace this welcome note thru Layout->Edit Html. Hope you like this nice template converted from wordpress to blogger.

Film Naga Bonar Jadi 2


Pada tahun 1987, sebuah film berjudul Nagabonar muncul dan langsung mendapat sambutan luar biasa. Skenario yang ditulis Asrul Sani sangat cerdas, patriotik. Warna nasionalisme yang sangat kental tidak mengganggu apresiasi penonton. Mungkin karena dulu pemerintah Orde Baru sangat getol mempropagandakan nasionalisme dan televisi hanya diisi acara-acara TVRI. Tahun 2007, sequel dari film ini dibuat dengan janji menawarkan semangat nasionalisme yang sama. Dan Deddy Mizwar, pemeran utama dalam film Nagabonar, kali ini bukan saja membintangi, tapi juga menyutradarainya. Dengan track record Deddy Mizwar yang belakangan ini membuat film-film dan sinetron Islami, sequel Nagabonar menjanjikan sebuah sajian yang bukan saja nasionalis, tapi juga agamis. Kekhawatiran bahwa sequel Nagabonar akan jadi sesuatu yang preachy pun tidak bisa dihindari. Setelah kami menontonnya, ternyata benar filmnya agamis dan nasionalis. Tapi kami juga salah. Film ini membuktikan bahwa dua hal tadi bukanlah hal yang membosankan. Nagabonar Jadi 2 adalah sebuah film yang cerdas, lucu, menyentuh, dan very very entertaining.

Mantan copet yang jadi jenderal perang Nagabonar (Deddy Mizwar) sudah tua dan dengan modal perkebunan kelapa sawit yang dimilikinya berhasil menyekolahkan anaknya, Bonaga (Tora Sudiro), sekolah di Inggris sampai lulus S2. Bonaga yang kini sudah jadi kontraktor sukses membawa bapaknya ke Jakarta. Segera, Nagabonar terlibat dalam sebuah adventure yang mengasyikkan, termasuk usahanya untuk menurunkan tangan patung Jenderal Sudirman supaya tidak lagi dalam posisi memberi hormat.

Kudos untuk penulis skenario Musfar Yasin yang juga menulis Kiamat Sudah Dekat dan Ketika. Kedua film itu juga sama cerdas dan menghiburnya, tapi terganjal oleh tata artistik yang lemah. Untungnya, Deddy berhasil menciptakan dunia yang modern di Nagabonar Jadi 2. Deddy Mizwar benar-benar bersinar di sini, demikian juga dengan para aktor pendukung, bahkan Wulan Guritno. Kami jadi sangat mencintainya.

Di akhir film, Deddy menggunakan hak suaranya untuk masalah nasionalisme. Walaupun penonton tidak harus setuju dengan pendapatnya, tapi dengan film dengan kualitas seperti ini, siapapun filmmakernya layak untuk didengar.

Pemain: DEDDY MIZWAR, TORA SUDIRO, WULAN GURITNO. LUKMAN SARDI, ULI HERDIANSYAH Sutradara: DEDDY MIZWAR Penulis: MUSFAR YASIN Produksi: PT GISELA CITRA SINEMA

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright 2009 Dwi Retno Kusherdini. All rights reserved.
Free WordPress Themes Presented by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy